Showing posts with label Lentera Mahadaya. Show all posts
Showing posts with label Lentera Mahadaya. Show all posts

Wednesday, March 7, 2012

Undangan Kajian Islam MIngguan Lentera Mahadaya. 11 Maret 2012


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bila memiliki rumah baru tentu kita berusaha untuk mengetahui segala sudut yang ada di rumah kita.

Begitu pula Addinul Islam, kita harus kenal ruang dan sudut yang ada di dalamnya.

Untuk itu jangan lewatkan kajian Lentera Mahadaya kali ini dengan tema "Mengenal Islam lebih lanjut"

Hari: Ahad, 11 Maret 2012
Waktu: Pk. 13.00 - 15.00 wib
Tempat: Masjid Al-Hidayah, Lt. 4 Gedung Parkir Gandaria City - JakSel.
Penceramah: Ust. Angga Dimas (Sekjen Hilal Amar Society)

 Profil penceramah:
Nama                         : Angga Dimas, S. Farm (farmasi)
Pendidikan                  : S1
Pendidikan Informal      : Dauroh-Dauroh Islam dan Talaqi (Belajar Islam langsung ke seorang guru)
Aktivitas                     :
- Da'i (Mengajar)
- Aktif di Lembaga Bina Muallaf Baitul Maqdis 2006-2008- Sek Jen HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia) LSM Islam bidang sosial-medis
- Pengurus Jalinan Keluarga dakwah
- Majelis Syuro Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) ormas kemahasiswaan Islam tingkat nasional
- Supporting Jibreel Foundation Indonesia

Mari semarakkan syiar dan dakwah Islam dengan mengajak keluarga dan sahabat, dan raihlah keberkahan Allah

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Note:
Untuk kenyamanan bersama, bila berkenan mohon konfirmasi kehadirannya atau bisa bertanya informasi lebih lanjut melalui email / SMS ke:
daftar@lenteramahadaya.org
02160367492

Friday, December 23, 2011

Mari Datang ke Pertemuan Mingguan Lentera Mahadaya Ke-3

Pertemuan rutin Lentera Mahadaya, dari kami muallaf, untuk saudara-saudari kami dan agama yang kami cinta


Minggu, 25 Desember 2011
Mesjid Diknas [Belakang FX], mulai pukul 10:00
Kajian dan sharing bersama Stevanus Iqbal



Yuk datang! Mari saling berbagi inspirasi yang menguatkan dan menggetarkan hati. Kita tidak sendiri :)

Untuk reservasi tempat [tidak dipungut biaya] atau informasi lebih lanjut bisa menguhubungi Blessed Irene [Irene] di 0838.66333.769




Saturday, December 3, 2011

Sepercik Kisah Ket[j]il

Berawal dari pertemuan yang [bukan] kebetulan lewat  Pro[j]ek Mimpi yang melahirkan sebuah 'perahu' kecil dengan semangat besar berbendera Lentera Mahadaya, akhirnya pada 3 Desember tahun kelinci pertemuan pertama sahabat Lentera berhasil dilangsungkan.

Dengan persiapan yang terbilang sederhana sehingga kami memberi judul pada guratan pena mengenai undangan acara ini dengan Persembahan Ket[j]il #1, para awak 'perahu' kecil ini mendayung bersama dengan aura perdamaian.

Acara yang juga menjadi bentuk puji syukur dari salah satu  pencetus utama dari Lentera Mahadaya [Seorang muallaf yang memilih untuk dipanggil Sylvi yang bekerja di dunia kesehatan untuk tujuan kemanusiaan] yang telah menempuh tahun ke-7 memeluk agama Allah.  Dengan dukungan penuh oleh Aisyah Ie yin Gozali Ishar [Account Manager sebuah EO dan muallaf yang berasal dari keturuan Tionghoa], Seorang penulis dan pekerja kemanusiaan yang terlahir sebagai Bernadette Irene dan berhijrah sehingga diberkati dengan nama Irene Ni'matul Maula Az-zahra, Pradipta Nugrahanto, [jurnalis dan penulis buku yang tengah mencoba mencurahkan titipan kemampuan menulisnya untuk berbagai hal yang mengandung elemen kebaikan], juga Andre [muallaf Tionghoa yang sempat kuliah di negeri Paman Sam] dan Riza [donatur lenteramahadaya.org].

Lebih dari 20 orang menaiki perahu kecil ini, dan saling berbagi kisah inspiratif dalam suasana yang penuh kehangatan. Di lembaran kertas dunia maya ini, kami mencoba menggores pena untuk seutas kalimat dari dua muallaf [William dan Steven Indra] dalam kotak kecil ini.

Bagi seorang pria bernama lengkap Muhammad William Djonaedy yang dalam perkenalannya menyebut dirinya sebagai William saja, perjalanan untuk memeluk Islam justru berawal dari rasa benci. Pemberitaan miring yang tersebar tanpa saringan di dunia maya memang kerap membuat banyak orang menancapkan stigma kontradiktif positif, termasuk juga dalam diri William. Kesehariannya yang masih mendapatkan support finansial dari orang tua membuatnya tidak terfokus untuk mengumpulkan pundi-pundi penopang kehidupan dan sibuk berkutat di depan layar monitor sembari beradu argumen dan memberikan komen negatif seputar agama Allah di berbagai jejaring sosial.

Namun di suatu sore, tanpa sengaja lantunan ayat suci didengar William dari Masjid yang berada di dekat tempat ia tinggal. Sejenak ia terenyuh dan merasakan sesuatu yang berbeda karena sebelumnya belum pernah ia mendengar pembacaan kitab suci dengan lantunan.

Berawal dari peristiwa yang menggetarkan hatinya itu, ia mencoba mencari informasi mengenai muallaf. Tentu teman-teman terdekatnya yang kerap menemaninya berdebat mulai bertanya-tanya. Namun jawabannya hanya sederhana "gue mau ajak debat", ujarnya. Tentu maksud sebenarnya bukan demikian. Perjalanan waktu tidak serta merta membuat William berhijrah walau keinginan membuncah. Hingga di suatu Shalat Tarawih di bulan Ramadan, ia hanya berani berdiri di luar masjid karena takut salah ketika shalat.

Pengakuan pada keluarga ketika sudah berpindah keyakinanpun tidak mudah. Berawal dari ancaman tidak akan diakui sebagai anak, hingga berbagai opini negatif lainnya. Namun niat yang tulus selalu berbuah manis, hingga akhirnya keluargapun mendukung sepenuhnya keputusan besar ini. Ketika keputusan untuk menikah menghampiri, pertentangan dari keluarga kembali menghampiri. Lagi-lagi sang pencipta semesta membukakan jalan dan mempertemukan William dengan belahan hatinya, Risdawati Idris yang dalam pertemuan dengan
Lentera Mahadaya juga turut mendampingi William bersama buah hatinya.

Muallaf kedua yang kami retas dalam lembaran ini adalah Steven Indra. Perjalanannya menjadi muallaf juga tidak semulus jalan bebas hambatan. Mulai dari harus menandatangani surat tidak akan lagi menerima warisan keluarga, hingga harus menahan luka fisik yang menyakitkan.

Tidak ada niat baik yang berakhir tanpa berkah. Meskipun harus berjalan tertatih demi menjalankan keyakinan pilihan, semua itu justru menguatkan Steven. Pergerakannya lewat www.mualaf.com adalah satu bukti kepeduliannya terhadap sesama sahabat, dan mengukuhkan bila kita semua adalah satu MUSLIM.

-Lentera Mahadaya-
Muda dan Mencinta Islam dengan Segala Isinya

Saturday, November 26, 2011

-Pride // Awareness in Green-



Kami merenung melihat deretan pita berwarna-warni yang teruntai di sebuah sudut ruangan.  Beragam warna yang memanjakan mata terbentuk dalam lipatan sederhana di mana kedua ujungnya bertautan.

Ketika merah disimbolkan sebagai peduli HIV, pink mengarah pada kepedulian terhadap kanker payudara dan hitam yang menjadi representasi dari anti suicide maka kami mencoba mencari apakah yang dideskripsikan oleh sebuah warna yang secara historis juga merupakan sebuah warna [Islam].

Memang, hijau telah digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan kepedulian akan banyak hal. Namun rasanya bukan merupakan suatu kesalahan bila kami menyematkan warna hijau sebagai simbolisasi kepedulian terhadap rasa bangga dengan keyakinan dan iman akan Islam.

"Kami bangga, kami peduli//Islam Pride Awareness"

Thursday, November 24, 2011

#1 [Persembahan Ketjil dari Kami untuk Para Sahabat]

Setelah pertemuan persahabatan yang membuahkan inspirasi Lentera Mahadaya pada 19 November 2011, kami mengajak sahabat-sahabat sekalian untuk hadir di event ketjil kami yang pertama [#1]. -Always Support Love and Making Peace-


Tidak ada niatan yang lebih dari wadah ini, selain mengharap persatuan dan pembelajaran. Kami masih [dan akan selalu] muda, dan tentunya [akan selalu] mencintai segala esensi dalam Islam.

Saturday, November 19, 2011

Semengalir Air//Seterjal Bukit Berduri



Menuju Satu Titik

Kadang mata masih melotot dan harus dikucek-kucek ketika melihat seorang bermata sipit berkulit kuning masuk ke ruang peribadatan umat muslim. Padahal apa bedanya? Kita manusia dan mereka juga bukan?

Apakah ada yang salah dengan mereka yang berpindah karena merasa menemukan hal paling indah? Lahir 38 tahun lalu dari keluarga yang kental dengan keyakinan Buddha yang kuat dan memilih untuk menjadi Katholik beralih dan akhirnya memutuskan berhijrah ke Islam tentu bukanlah suatu kebetulan dalam diri seorang wanita Aisyah Ie Yin Gozali Ishar [Ai].

Bila kebanyakan perpindahan diiringi dengan pertentangan, yang didapatnya justru keseimbangan. Tidak ada tekanan, semuanya berjalan sesuai harapan. 

Adalah suatu keajaiban saat ia pulang kerumahnya untuk bertoleransi di hari besar Imlek dan oleh pihak keluarga tercinta [kakak]  dibuatkan makanan khusus untuknya yang tidak mengandung zat yang haram.

Ibarat cermin terbalik, kondisi berbeda dialami seorang pekerja medis berusia belia yang juga memutuskan untuk berhijrah dan mencari ketenangan dalam beribadah lewat pilar keislaman," jelas wanita bernama panggil Sylvie ini. 

Dibesarkan dari keluarga yang berbeda keyakinan namun keduanya berakhir dengan sama-sama keras menentang nilai-nilai keislaman. Penentangan demi penentangan terus terjadi. Kehilangan banyak teman yang [dahulu] selalu berada dekat berangsur mulai hilang.

Referensi dari buku 'Salib di Bulan Sabit' adalah titik balik yang membuatnya semakin yakin bahwa pilihannya suatu hal yang benar. Meski perguliran waktu hingga 7 tahun tidak akan terasa sebentar, ia masih merasa gentar untuk mengutarakan kenyataan bila dirinya telah berpindah keyakinan.

Meski terbelah dalam dua kacamata, semuanya mengarah pada satu titik, ingin menyatukan umat muslim tanpa pengkotak-kotakan. Dan lewat diskusi singkat bersama dua sosok yang berbeda sisi di akhir pekan siang tadi, hembusan nyawa Lentera Mahadaya mulai ditiupkan!

Seberkas Cahaya Bagi Sesama



Cahaya tak harus menyinari seisi bumi untuk menjadi berarti. Sekelibatan sinar lilinpun bisa menjadi pencerah arah. Berangkat dari sejumput mimpi yang terserak, kami membuat wadah agar semua tak tertumpah tanpa arah. 

Bicara soal keputusan besar yang berbuah pada suatu perubahan dan perpindahan, bukan perdebatan yang menjadi harapan kami. Namun kebersamaan dan pembelajaran untuk tujuan kebaikan selalu kami nantikan.

Kami sudah cukup gerah rasanya dengan pengkotak-kotakkan. Ketika semuanya berujung pada kekacauan dengan alasan ketidaksamaan. Sudah tentu yang semacam ini hanya berbuah perpecahan.

Wadah ini adalah tempat berbagi, tak peduli seberapa takarannya. Tak terbatas untuk para sahabat yang berhijrah ke jalan Allah, namun juga terbuka lebar untuk yang sedari lahir telah menjadi follower rasul yang terutama dan terakhir.



Tercipratnya mimpi besar ini tentu tak terlepas dari titipan-Nya pada empat followernya yang muncul dengan latar belakang yang berbeda. Namun semuanya memiliki satu kesamaan, mendamba kedamaian dengan harapan buah kebahagiaan. Sang pencetus utama dari kotak mungil ini mengaku enggan untuk dipublikasikan namanya. [Seorang muallaf yang memilih untuk dipanggil Sylvi yang bekerja di dunia kesehatan untuk tujuan kemanusiaan] dibantu oleh Aisyah Ie yin Gozali Ishar [Account Manager sebuah EO dan muallaf yang berasal dari keturuan Tionghoa], Seorang penulis dan pekerja kemanusiaan yang terlahir sebagai Bernadette Irene dan berhijrah sehingga diberkati dengan nama Irene Ni'matul Maula Az-zahra dan Pradipta Nugrahanto, [jurnalis dan penulis buku yang tengah mencoba mencurahkan titipan kemampuan menulisnya untuk berbagai hal yang  
mengandung elemen kebaikan].

Tidak ada niatan yang lebih dari wadah ini, selain mengharap persatuan dan pembelajaran. Kami masih [dan akan selalu] muda, dan tentunya [akan selalu] mencintai segala esensi dalam Islam.